KARYA 

TARJAMAH BEBAS

Dr. H. Abdul Azis, M.Pd.I

A.    Memahami prinsip-prinsip dasar penerjemahan bebas.

Prinsip-prinsip dasar penerjemahan bebas menekankan pada fleksibilitas dalam menyampaikan makna dari bahasa sumber ke dalam bahasa target. Penerjemahan bebas sering kali mengutamakan pemahaman konteks dan budaya, daripada sekadar mengikuti struktur kalimat yang presisi. Berikut adalah beberapa prinsip dasar penerjemahan bebas:

1.   Fokus pada Makna (Dynamic Equivalence): Penerjemahan bebas lebih menekankan pada mentransfer makna dan pesan dari teks asli ke dalam bahasa target, daripada sekadar menggandakan struktur kalimat. Terjemahan harus mengkomunikasikan esensi dan nuansa teks asli.

2.   Fleksibilitas Struktural: Penerjemahan bebas memungkinkan perubahan struktur kalimat untuk mengakomodasi perbedaan antara bahasa sumber dan bahasa target. Hal ini dilakukan untuk menjaga aliran dan kejelasan dalam terjemahan.

3.   Reproduksi Gaya dan Suasana: Terjemahan bebas dapat mengekspresikan gaya penulisan, nada, dan suasana dari teks asli, sehingga pembaca dalam bahasa target dapat merasakan nuansa yang sama.

4.   Pemahaman Konteks Budaya: Penting untuk memahami konteks budaya di mana teks asli diciptakan dan mengakomodasi perbedaan budaya dalam terjemahan. Ini membantu mencegah kesalahan interpretasi atau mengurangi ketidaksesuaian budaya.

5.   Penyesuaian dalam Idioma dan Ungkapan: Penerjemahan bebas memungkinkan penyesuaian idioma, ungkapan, atau pepatah yang mungkin tidak memiliki padanan langsung dalam bahasa target.

6.   Pertimbangan Genre dan Tujuan Teks: Penerjemahan bebas mempertimbangkan genre teks dan tujuannya. Sebagai contoh, teks sastra dapat memiliki interpretasi yang lebih bebas untuk menangkap nuansa artistiknya.

7.   Kreativitas Penerjemah: Penerjemah bebas memiliki kebebasan dalam membuat keputusan penerjemahan yang mencerminkan pemahaman dan interpretasinya terhadap teks. Kreativitas diperlukan untuk menjaga keefektifan komunikasi.

8.   Pentingnya Revisi dan Umpan Balik: Karena penerjemahan bebas melibatkan interpretasi dan keputusan subjektif, proses revisi dan umpan balik sangat penting untuk memastikan bahwa makna dan pesan yang diinginkan terjaga dalam terjemahan.

9.   Keakuratan Makna Utama: Meskipun penerjemahan bebas lebih fleksibel, makna utama teks asli tetap harus dijaga. Keterlibatan penerjemah dalam pemahaman mendalam teks asli menjadi kunci untuk menjaga akurasi ini.

10.  Konsistensi dengan Target Audience: Terjemahan bebas harus disesuaikan dengan audiens target. Misalnya, jika teks awalnya ditujukan untuk pembaca akademis, terjemahan juga harus disesuaikan agar tetap relevan untuk audiens yang serupa.

Ingatlah bahwa penerjemahan bebas membutuhkan pemahaman mendalam tentang bahasa sumber dan budaya, serta kreativitas dalam mengungkapkan makna tersebut dalam bahasa target. Meskipun fleksibel, penerjemahan bebas tetap memerlukan ketelitian dan pertimbangan yang cermat untuk memastikan bahwa pesan inti dan konteksnya tetap terjaga.

 

B.     Mengembangkan keterampilan penerjemahan yang akurat dan tepat sesuai konteks.

Mengembangkan keterampilan penerjemahan yang akurat dan tepat sesuai konteks adalah tujuan krusial dalam mata kuliah "Tarjamah Bebas". Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil dalam rangka mencapai tujuan tersebut:

1.   Pemahaman Mendalam terhadap Teks Asli:

a.       Bacalah teks asli dengan cermat dan pastikan Anda memahami maknanya secara menyeluruh.

b.      Identifikasi nuansa, idioma, ungkapan, dan struktur kalimat yang mungkin sulit untuk diterjemahkan secara langsung.

 

 

2.   Pemahaman Konteks Budaya:

a.       Pelajari konteks budaya di mana teks asli dibuat. Ini akan membantu Anda menghindari penerjemahan yang tidak akurat atau tidak sensitif secara budaya.

b.      Pertimbangkan apakah ada konsep-konsep atau referensi budaya yang mungkin tidak memiliki padanan langsung dalam bahasa target.

3.   Menggunakan Kamus dan Sumber Bantuan:

a. Manfaatkan kamus bilinggual dan sumber bantuan lainnya untuk membantu memahami makna kata-kata yang sulit atau tidak biasa.

b. Gunakan kamus idiom dan frasa untuk mencari padanan yang cocok dalam bahasa target.

4.   Perhatikan Struktur Kalimat dan Tata Bahasa:

a. Perhatikan struktur kalimat dalam bahasa sumber dan pastikan terjemahan Anda juga mengikuti tata bahasa yang tepat dalam bahasa target.

b. Namun, bersikaplah fleksibel dalam menyesuaikan struktur kalimat untuk menjaga kelancaran dan kejelasan dalam bahasa target.

5.   Konsultasi dengan Rekan atau Penerjemah Lain:

a. Diskusikan pilihan penerjemahan Anda dengan rekan atau penerjemah lain. Ini dapat memberi Anda sudut pandang baru dan menghindari kesalahan interpretasi.

6.   Latihan Berulang:

a. Lakukan latihan penerjemahan secara berkala untuk mengasah keterampilan Anda.

b. Berikan diri Anda berbagai jenis teks, termasuk teks yang kompleks atau teknis, untuk melatih kemampuan Anda dalam berbagai konteks.

7.   Analisis Ulang dan Revisi:

a. Setelah Anda selesai menerjemahkan, luangkan waktu untuk menganalisis ulang terjemahan Anda.

b. Periksa kembali makna, keakuratan, dan kesesuaian konteks. Apakah terjemahan Anda masih mempertahankan esensi dan pesan yang diinginkan?

8.   Terus Berkembang:

a. Terjemahan yang akurat dan tepat membutuhkan praktek yang berkelanjutan dan komitmen untuk terus belajar dan meningkatkan keterampilan Anda.

b. Pelajari dari umpan balik dan kesalahan Anda, dan teruslah eksplorasi strategi baru dalam penerjemahan.

Ingatlah bahwa mengembangkan keterampilan penerjemahan yang akurat dan tepat sesuai konteks memerlukan dedikasi dan ketekunan. Selalu tetap terbuka terhadap umpan balik dan belajar dari pengalaman Anda untuk terus meningkatkan kemampuan penerjemahan Anda

C.    Mengidentifikasi perbedaan budaya yang memengaruhi penerjemahan.

Mengidentifikasi perbedaan budaya yang memengaruhi penerjemahan merupakan aspek penting dalam mata kuliah "Tarjamah Bebas". Perbedaan budaya dapat memiliki dampak signifikan pada interpretasi dan penerjemahan sebuah teks. Berikut adalah beberapa contoh perbedaan budaya yang perlu diperhatikan dalam penerjemahan:

1.  Idioma dan Ungkapan Khas: Idioma dan ungkapan dalam bahasa sumber mungkin tidak memiliki padanan langsung dalam bahasa target. Penerjemah perlu mengidentifikasi ungkapan khas dan mencari cara yang tepat untuk menyampaikan maknanya dalam bahasa target.

2.  Norma Etiket dan Sopan Santun: Norma-norma etiket, sopan santun, dan tata cara dalam berkomunikasi dapat berbeda antara budaya. Terjemahan harus memperhatikan tata cara komunikasi yang sesuai dalam budaya target.

3.  Konsep Kultural dan Religius: Beberapa konsep kultural atau religius mungkin sulit untuk diterjemahkan karena tidak ada padanan langsung dalam bahasa target. Penerjemah harus memahami makna mendalam di balik konsep-konsep ini dan mencari cara untuk mentransfernya.

4.  Konotasi dan Konotasi Budaya: Kata atau frasa dalam bahasa sumber dapat memiliki konotasi budaya yang berbeda. Penerjemah perlu memastikan bahwa konotasi tersebut tetap terjaga atau disesuaikan dengan budaya target.

5.  Pemilihan Kata Berdasarkan Makna Budaya: Makna kata dalam bahasa sumber mungkin memiliki makna budaya tertentu yang tidak dapat dipindahkan secara langsung ke dalam bahasa target. Penerjemah perlu memilih kata yang paling sesuai dengan konteks budaya.

6.  Nilai dan Keyakinan: Pemahaman terhadap nilai-nilai dan keyakinan budaya membantu penerjemah menghindari kesalahan penerjemahan yang mungkin melanggar nilai-nilai budaya dalam bahasa target.

7.  Penggunaan Gender dan Gaya Bahasa: Cara bahasa mengakomodasi gender dan gaya bahasa mungkin berbeda antara bahasa sumber dan bahasa target. Penerjemah harus memilih kata dan frasa yang sesuai dengan aturan budaya target.

8.  Kiasan dan Metafora: Kiasan dan metafora dalam bahasa sumber mungkin memerlukan penyesuaian dalam bahasa target untuk menjaga efek retoris dan estetika.

9.  Konteks Sejarah dan Budaya: Penerjemah perlu memahami konteks sejarah dan budaya di balik teks asli untuk menghindari interpretasi yang salah atau keliru.

10.  Humor dan Ironi: Humor dan ironi cenderung sangat tergantung pada konteks budaya. Penerjemah perlu memutuskan apakah menyampaikan humornya dengan cara yang berbeda atau mengungkapkan makna dengan cara yang lebih jelas.

Mengenali dan mengatasi perbedaan budaya dalam penerjemahan memerlukan pemahaman mendalam tentang kedua budaya yang terlibat. Penerjemah harus senantiasa sensitif terhadap nuansa dan makna budaya dalam teks asli, dan upaya yang cermat harus dilakukan untuk mengakomodasi perbedaan tersebut agar pesan tetap terjaga dan komunikasi efektif terjadi.

D.    Menerapkan strategi penerjemahan yang sesuai dengan jenis teks yang berbeda.

Menerapkan strategi penerjemahan yang sesuai dengan jenis teks yang berbeda adalah kunci untuk menghasilkan terjemahan yang efektif dan akurat. Berbagai jenis teks memiliki tujuan komunikasi yang berbeda-beda, sehingga diperlukan pendekatan yang sesuai untuk mengkomunikasikan pesan dengan tepat. Berikut adalah beberapa strategi yang dapat digunakan untuk berbagai jenis teks:

1.      Teks Sastra:

a. Terjemahan sastra memerlukan pemahaman mendalam tentang nuansa dan gaya penulis.

b. Fokus pada mempertahankan aliran narasi dan ekspresi artistik.

c. Prioritaskan reproduksi suasana dan emosi teks dalam bahasa target.

2.      Teks Ilmiah dan Teknis:

a. Teknik penerjemahan ilmiah dan teknis memerlukan ketepatan dan akurasi dalam mentransfer konsep yang kompleks.

b. Hindari interpretasi bebas dan pastikan istilah khusus dan definisi dijaga.

c. Gunakan referensi ilmiah yang relevan untuk memastikan konsistensi.

3.      Berita dan Jurnalisme:

a. Terjemahan berita harus tetap menjaga kecepatan dan ketepatan informasi.

b. Fokus pada menjaga kejelasan dan keseimbangan dalam menyampaikan fakta.

c. Pastikan nuansa pemberitaan sesuai dengan norma budaya dan etika jurnalistik.

4.      Teks Pemasaran dan Iklan:

a. Terjemahan teks pemasaran memerlukan kreativitas dan adaptasi pesan untuk budaya target.

b. Fokus pada menjaga daya tarik dan dampak pesan dalam bahasa target.

c. Terjemahkan elemen retoris seperti slogan dan tagline dengan efektif.

5.      Teks Hukum dan Kontrak:

a. Penerjemahan teks hukum harus mengedepankan akurasi dan kejelasan hingga level terkecil.

b. Pastikan istilah-istilah hukum memiliki padanan yang akurat dalam bahasa target.

c. Pahami dampak hukum dan konsekuensi dari penerjemahan yang salah.

6.      Teks Budaya dan Sejarah:

a. Terjemahan teks budaya dan sejarah membutuhkan pemahaman mendalam tentang konteks budaya dan konteks historis.

b. Tetapkan prioritas pada menjaga keakuratan historis dan kekhasan budaya dalam bahasa target.

7.      Teks Teknologi dan Informatif:

a. Terjemahan teks teknologi memerlukan pemahaman tentang terminologi teknis dan perkembangan terbaru.

b. Fokus pada kejelasan dan kemudahan pemahaman bagi pembaca dalam bahasa target.

8.      Teks Humor atau Satir:

a. Terjemahan teks humor atau satir memerlukan kepekaan terhadap konotasi dan budaya yang mendasari.

b. Gunakan strategi yang mempertahankan efek humor atau ironi dalam bahasa target.

Setiap jenis teks memiliki tantangan dan tuntutan unik. Penerjemah harus mampu menyesuaikan strategi penerjemahan mereka sesuai dengan konteks teks tersebut, menjaga kesesuaian budaya, dan memprioritaskan tujuan komunikasi yang sesuai dengan jenis teks yang ditangani.

E.     Mampu mengevaluasi dan merevisi hasil penerjemahan.

Kemampuan untuk mengevaluasi dan merevisi hasil penerjemahan adalah keterampilan penting dalam penerjemahan. Hal ini memungkinkan Anda untuk memastikan bahwa terjemahan akurat, jelas, dan efektif dalam menyampaikan pesan dari bahasa sumber ke bahasa target. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat Anda ambil untuk mengevaluasi dan merevisi hasil penerjemahan:

1.Berikan Jeda Waktu: Setelah selesai menerjemahkan, beri diri Anda jeda waktu sebelum mulai mengevaluasi. Ini membantu Anda melihat teks dengan mata yang segar dan objektif.

2.Analisis Konteks dan Makna: Baca kembali teks asli untuk memastikan bahwa Anda memahami konteks dan maknanya dengan benar. Pastikan bahwa terjemahan Anda tetap setia pada makna dan pesan yang dimaksudkan.

3.Periksa Konsistensi: Pastikan bahwa istilah, frase, dan konsep yang sama telah diterjemahkan secara konsisten sepanjang teks. Jika ada variasi dalam pilihan kata, pastikan ini disengaja dan sesuai dengan konteks.

4.Ketepatan Tata Bahasa dan Ejaan: Periksa tata bahasa dan ejaan dalam terjemahan Anda. Pastikan tidak ada kesalahan tata bahasa, kesalahan ejaan, atau kebingungan tentang struktur kalimat.

5.Cocokkan dengan Tujuan Teks: Tinjau tujuan teks dalam bahasa target. Apakah terjemahan Anda memenuhi tujuan komunikasi yang diinginkan? Apakah gaya dan tone cocok dengan tujuan tersebut?

6.Tes Keterbacaan: Baca terjemahan secara keseluruhan dan perhatikan apakah ada bagian yang sulit dipahami atau tidak lancar. Pastikan bahwa terjemahan memiliki aliran yang baik dan mudah dimengerti oleh pembaca.

7.Revisi Isi: Jika diperlukan, lakukan revisi pada bagian-bagian teks yang memerlukan klarifikasi atau penyempurnaan. Pastikan setiap kalimat atau paragraf memiliki makna yang jelas.

8.Bandingkan dengan Teks Asli: Bandingkan terjemahan Anda dengan teks asli. Apakah Anda telah berhasil menangkap semua nuansa dan rincian penting? Jika ada perbedaan signifikan, pertimbangkan apakah ini sesuai dengan konteks budaya dan komunikatif.

9.Minta Umpan Balik: Jika memungkinkan, minta umpan balik dari sesama penerjemah atau orang yang fasih dalam bahasa target. Pendapat dari pihak ketiga dapat memberikan wawasan berharga.

10.  Teruslah Belajar: Setiap revisi adalah peluang untuk belajar dan berkembang. Pelajari dari kesalahan dan perbaikan yang Anda lakukan, dan terapkan pengetahuan baru ini dalam penerjemahan berikutnya.

11.  Akhirnya, Revisi Lagi: Setelah Anda melakukan revisi awal, berikan diri Anda waktu untuk merevisi sekali lagi. Pengulangan ini dapat membantu Anda menemukan kesalahan yang mungkin terlewatkan sebelumnya.

Ketelitian dan kesabaran sangat penting dalam mengevaluasi dan merevisi hasil penerjemahan. Langkah-langkah ini membantu Anda memastikan bahwa terjemahan akurat, kohesif, dan sesuai dengan tujuan komunikasi yang diinginkan.

 

Referensi:

 

 


Belajar Bahasa Arab di Era 4.0 memiliki sejumlah peluang dan tantangan yang perlu dipertimbangkan. Era 4.0, yang ditandai oleh perkembangan teknologi digital, terutama internet, telah membawa dampak signifikan pada cara belajar dan mengajar Bahasa Arab. Berikut adalah beberapa peluang dan tantangan yang muncul:

Peluang:

Tantangan:


Apakah Bahasa Arab itu adalah Bahasa ahli Surga?

Dari beberapa tulisan yang saya baca maupun tugas akhir mahasiswa sering sekali saya menemukan ungkapan  اللغة العربية هي لغة القرآن الكريم ولغة الجنة  Bahasa Arab adalah merupakan Bahasa Al-Qur’an dan Bahasa Surga. Yang saya garis bawahi adalah Bahasa surga.hal ini juga didasari oleh sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Thabrani

"Aku mencintai Arab karena tiga hal. Karena aku orang Arab, Alquran berbahasa Arab, dan bahasa Arab adalah bahasa surga." (HR Thabrani).

Banyak ulama yang menghukumi hadis ini sebagai hadis dhaif, sebagian menyebut hadis palsu. Namun, Imam as-Suyuthi dalam Jami'us Shaghir memasukkkan hadis ini sebagai hadis dengan derajat sahih.

Dari beberapa Riwayat tentang bahasa Arab adalah Bahasa surga paling tinggi derajat hadisnya hanya sampai mauquf ke Umar bin Khattab RA, tentang perkataannya, "Pelajarilah bahasa Arab karena ia adalah separuh dari agamamu." Dalam riwayat lain disebutkan "Ia bagian dari agamamu." Penjelasan ini didapatkan dalam Musnad firdaus ad-Dalimi.

Ada pula hadis mauquf yang sampai ke Ali bin Abi Thalib RA yang berbunyi, "Bahasa Arab adalah bahasa Surga." Hadis ini didhaifkan oleh az-Zahabi.

Ibnu Taimiyah ketika ditanya tentang bahasa penduduk surga, beliau menjawab dalam Majmu Fatawa jika tidak dapat diketahui bahasa apakah yang akan digunakan manusia pada hari itu. Tidak ada keterangan dari hadis maupun nash Alquran tentang hal ini. Tidak pernah juga didengar dari kalangan sahabat jika bahasa penduduk surga adalah bahasa Arab dan bahasa penduduk neraka adalah bahasa Persia.

Namun, memang menurut Ibnu Taimiyah, ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama khalaf. Ada yang menyebut bahasa Arab digunakan sebagai bahasa di surga dan bahasa Persia digunakan penduduk ahli neraka.

Beberapa pendapat mengatakan, penduduk surga akan memakai bahasa Suryaani sebagaimana dipakai oleh Nabi Adam AS dan diyakini semua bahasa dunia hari ini bersumber dari bahasa itu.  Namun, Ibnu Taimiyah menggarisbawahi jika semua pendapat tersebut belum bisa dijadikan hujah karena tidak bersumber dari Alquran dan hadis.

 

Dari beberapa referensi yang saya baca, saya bisa simpulkan bahwa kalau Bahasa Arab adalah Bahasa Al-Qur’an dan Hadits bukan merupakan Bahasa Surga, karena belum ada bukti yang real kalau Bahasa Arab merupakan Bahasa Surga. Akan tetapi sebagai orang yang mencintai Bahasa Arab pastinya saya mengajak saudara semua untuk mempelajari Bahasa Arab, karena dengan mempelajari bahsa arab kita bisa menggali hukum-hukum islam dari literasi Arab, bahkan dengan mempelajari Bahasa arab kita bisa komunikasi dengan orang Arab.